Post Top Ad
Wednesday, June 29, 2011
Thursday, November 19, 2009
Tanda-tanda Persalinan
Tanda-tanda Persalinan.
Menurut Manuaba (1998), gejala persalinan sebagai berikut :
a. Kekuatan his makin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi
yang semakin pendek.
b. Dapat terjadi pengeluaran pembawa tanda, yaitu :
1. Pengeluaran lendir.
2. Lendir campur darah.
a. Dapat disertai ketuban pecah.
d.Pada pemeriksaan dalam , dijumpai perubahan serviks :
1. Perlunakan serviks.
2. Pendaratan serviks.
3. Terjadi pembukaan serviks.
Menurut Mochtar (1998), tanda-tanda persalinan adalah :
a. Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat sring dan teratur.
b. Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks.
c. Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
d. Pada pemeriksaan dalam : serviks mendatar dan pembukaan telah ada.
PrOsEs PeRsAlinan
Terjadinya persalinan belum diketahui dengan pasti, sehingga menimbulkan beberapa teori yang berkaitan dengan mulai terjadinya kekuatan his (Manuaba, 1998).
Menurut Manuaba (1998), ada 2 hormon yang dominan saat hamil, yaitu :
a. Estrogen
1). Meningkatkan sensitivitas otot rahim.
2). Memudahkan penerimaan rangsangan dari luar seperti rangsangan
oksitosin, rangsangan prostaglandin, dan rangsangan mekanis.
b. Progesteron
1). Menurunkan sensitivitas otot rahim.
2). Menyulitkan penerimaan rangsangan dari luar seperti rangsangan
oksitosin, rangsangan prostaglandin, dan rangsangan mekanis.
3) Menyebabkan otot rahim dan otot polos relaksasi.
Estrogen dan prostaglandin terdapat dalam keseimbangan sehingga kehamilan dapat dipertahankan. Perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron menyebabkan oksitosin yang dikeluarkan oleh hipofise parst posterior dapat menimbulkan kontraksi dalam bentuk Braxton Hicks. Kontraksi Braxton Hicks akan menjadi kekuatan dominan saat mulainya persalinan oleh karena itu makin tua hamil frekuensi kontraksi makin sering (Manuaba, 1998).
Menurut Mochtar (1998), sebab-sebab yang menimbulkan persalinan yaitu :
a. Teori Penurunan Hormon.
1 – 2 minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar progesteron turun.
b. Teori Plasenta Menjadi Tua.
Menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesteron yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah, hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim.
c. Teori Distensi Rahim.
Rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan iskemia otot-otot rahim, sehingga mengganggu sirkulasi utero-plasenter.
d. Teori Iritasi Mekanik.
Dibelakang serviks terletak ganglion servikale (fleksus frankehauser). Bila ganglion ini digeser dan ditekan misalnya oleh kepala janin, akan timbul kontraksi uterus.
e. Induksi Partus (induction of labour).
Partus dapat ditimbulkan dengan jalan :
1). Gagang laminaria : beberapa laminaria dimasukkan dalam
kanalis servikalis dengan tujuan merangsang pleksus frankeshauser.
2). Amniotomi : pemecahan ketuban.
3). Oksitosin drips : pemberian oksitosin menurut tetesan per
infus.
PENGERTIAN PERSALINAN
- Pengertian Persalinan
a. Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu (FK UNPAD , 1997).
b. Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina kedunia luar (Wikdjosastro, 1997).
c. Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin + uri ) , yang dapat hidup kedunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain (Mochtar, 1998).
d. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37 – 42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Prawirohardjo, 2002).
LaTaR BeLaKaNg GAMBARAN GAYA HIDUP DAN PERILAKU KONSUMTIF PAKAIAN PADA REMAJA PUTRI (keputihan)
Bagi produsen kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja. Di kalangan remaja rasa ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar sangatlah besar, padahal mode itu sendiri selalu berubah-rubah sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, sehingga muncullah perilaku yang konsumtif tersebut (Kusmin, 1997).
Pada mulanya belanja hanya merupakan sesuatu konsep untuk menunjukkan suatu sikap untuk mendapatkan barang yang menjadi keperluan untuk sehari-harinya dengan jalan menukarkan sejumlah uang sebagai pengganti barang tersebut. Pada saat ini konsep belanja itu sendiri telah berkembang sebagai sebuah cerminan gaya hidup dan rekreasi di kalangan masyarakat. Belanja adalah suatu gaya hidup tersendiri, dimana bahkan telah menjadi suatu kegemaran bagi sejumlah orang (Kusmin, 1997).
Gaya hidup yang dianut oleh masyarakat pada saat ini cenderung hanya mengikuti trend yang berlaku, sehingga bisa dikatakan gaya hidup yang dianut bersifat homogen dan tidak variatif. Dalam konteks ini tindakan yang dilakukan seorang individu bukanlah murni tindakan objektifnya akan tetapi termotivasi oleh unsur-unsur yang diluar individu, sehingga apa yang sedang berlaku umum disekitranya, itulah yang menjadi dasar tindakannya (Kusmin, 1997).
Remaja adalah suatu fase dalam kehidupan manusia, dimana ia tengah mencari jati dirinya dan biasanya dalam upaya pencarian jatidiri tersebut, ia mudah untuk terikat atau terimbas hal-hal yang tengah terjadi disekitarnya, sehingga turut membentuk sikap dan pribadi mereka (Kusmin, 1997).
Saat ini kita hidup dan berada dalam alam komoditas yang sama sekali tidak memberikan kita pilihan lain selain mengkonsumsi dan mengkonsumsi, serta terus mengkonsumsi semua produk-produk pasar yang dikendalikan oleh sifat keserakahan akan properti dalam atmosfer kompetisi. Kita hidup di jaman modern, sebenarnya yang membuat jaman kita secara fundamental berbeda dari masyarakat yang pernah ada sebelumnya. Dalam masyarakat kita sekarang segala sesuatunya dibuat menjadi komoditas, barang atau jasa dapat diperjual-belikan di pasar.
Budaya ialah cara yang menjadi sendi suatu bangsa budaya tidak dapat dibentuk dalam waktu sehari atau sekelip mata tetapi memerlukan waktu yang sangat lama. Pembentukan budaya positif masyarakat akan datang, perlu dimulai dari sekarang. Golongan dewasa ikut bertanggungjawab untuk membina, membentuk dan mendidik setiap individu remaja menjadi insan yang berbudaya positif (Hamzah, 2006).
Gaya hidup merupakan pola tingkah laku yang diungkapkan manusia sebagai respon terhadap hidup dan segala hal yang melingkupinya mencakup sekeumpulan kebiasaan, pandangan, pola-pola respon terhadap hidup, serta terutama perlengkapan untuk hidup (Adlin, 2006).
Dewasa ini masalah gaya hidup erat hubungannya dengan remaja, diamana masa yang belum stabil dalam mencari jati diri, sehingga para remaja berusaha mencari yang pas dan terbaik baginya sesuai arus jaman modern. Proses mencari kepribadian tersebut yang nantinya akan mempengaruhi gaya hidup remaja. Akibat adanya mode baru yang trend, remaja akan mengalami perubahan dari segi struktur sosial dan selanjutnya memberikan perubahan dalam kehidupan sehari-hari dan juga gaya hidupnya (Widyastuti, 2006).
Permasalahan ini menjadi penting, karena remaja merupakan aset untuk kelangsungan masa depan bangsa. Untuk mengetahui bagaimana persepsi mereka mengenai konsumenisme ini, kita akan mengetahui sampai sejauh mana konsumersime ini menggejala di tengah mereka, sehingga kita bisa mengambil sikap-sikap yang dapat mengantisipasinya lebih lanjut.
