Welcome to my blog, hope you enjoy reading
RSS

Thursday, November 19, 2009

Latar Belakang Perdarahan Post Partum


AKI di Indonesia saat ini menjadi isu yang sangat serius dan masih tertinggi di Asia. Penyebab AKI di Indonesia adalah perdarahan, eklamsi, infeksi saat persalinan, abortus, partus lama/macet, emboli obstetr dan komplikasi masa post partum. AKI Indonesia adalah 262/100.000 kelahiran hidup (BPS)(Atmasari, 2008). Lima penyebab tingginya angka kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan, eklampsia, aborsi tidak aman (unsafe abortion), partus lama, dan infeksi. Perdarahan post partum menjadi masalah penting dalam bidan obstetri dan ginekologi. Walaupun angka kematian maternal telah menurun secara dramatis dengan adanya pemeriksaan-pemeriksaan dan perawatan kehamilan dan persalinan di rumah sakit dan adanya fasilitas tranfusi darah. Namun kematian ibu akibat perdarahan masih merupakan faktor utama pada kematian maternal. Pendarahan dalam bidan obstetri hampir selalu berakibat fatal bagi ibu maupun janin, terutama jika tindakan pertolongan terlambat dilakukan atau keterlambatan diagnosa (Khoman, 2001).

1

Perdarahan terjadi akibat sebab, diantaranya adalah persalinan. Pada kasus persalinan lama menyebabkan ruptur uteri dengan keluarnya perdarahan perdarahan pervaginam, sedangkan pada persalinan dengan retensi plasenta akibat atoni uterus yang disertai oleh perdarahan. Persalinan dengan inersia uteri ataupun tetania uteri yang disebabkan uterus tidak dapat berkontraksi teratur hingga menyebabkan trauma persalinan dapat dijumpai pada kejadian episiotomi atau robekan perineum yang merupakan salah satu penyebabnya (Prawirohardjo, 2005; Manuaba, 2002).

Perdarahan post partum secara tradisional ialah perdarahan yang melebihi 500 cc. Perdarahan post partum dibagi menjadi Perdarahan primer yaitu perdarahan yang terjadi dalam waktu 24 jam pascapersalinan dan
Perdarahan sekunder yaitu perdarahan yang terjadi dalam waktu sesudah 24 jam pertama pascapersalinan itu. (Sastrawinanta, 2005).
Gejala klinis perdarahan pervaginam yang terus menerus setelah bayi lahir, pucat mungkin tanda-tanda syok, tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ekstremitas dingin, gelisah, mual, fundus uteri tinggi di atas pusar, uterus lembek (Khoman, 2001).

Faktor-faktor penyebab perdarahan post partum diantaranya disebabkan karena atonia uteri dimana uterus tidak berkontraksi dan lembek, perdarahan segera setelah lahir, kemudian perdarahan post partum karena robekan jalan lahir dengan gejala dan tanda darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir, uterus berkontraksi dan keras serta plasenta lengkap. Pada perdarahan post partum akibat retensio plasenta, plasenta belum lahir setelah 30 menit. Perdarahan segera terlihat dan uterus berkontraksi dengan keras. Tertinggalnya sebagian plasenta juga akan mengakibatkan plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah, tidak lengkap dan perdarahan segera). Perdarahan post partum dengan inersia uteri akan tampak uterus tidak teraba, lumen vagina terisi massa, tampak tali pusat (jika plasenta belum lahir) Pada penderita kelainan darah misalnya afibrinogenemia atau hipofibrinogenemia yang sering dijumpai perdarahan setelah persalinan akan sulit berhenti. Predisposisi pada perdarahan post partum adalah multi paritas, uterus telalu regang dimana diakibatkan oleh hidramnion, hamil ganda, anak besar (BB > 40 gram). Usia lanjut yang menyebabkan kontraksi uterus tidak lagi teratur. Perdarahan post partum dapat didukung dengan adanya anemia pada ibu yang dapat memperparah perdarahan, gestosis ataupun riwayat perdarahan sebelumnya mendukung terjadinya atonia uteri serta partus lama yang menyebabkan perdarahan post partum (Prawirohardjo, 2005).

Studi pendahuluan yang dilakukan di RSU Pandan Arang Boyolali pada bulan Januari 2009 dari 37 ibu nifas terjadi perdarahan post partum, dengan gambaran perdarahan pospartum lima (5) diantaranya adalah dua (2) ibu nifas dengan perdarahan berupa gumpalan >500cc warna merah kehitaman akibat retensio sisa placenta, dua (2) ibu nifas dengan perdarahan pospartum berupa darah cair >500cc warna merah segar diakibatkan atonia uteri dengan anemia. Satu (1) ibu nifas dengan perdarahan pospartum darah kental >500cc warna merah segar akibat atonia uteri dengan hamil usia tua.

Adanya alasan tersebut, kita dapat mengambil gambaran bahwa masih banyak kejadian perdarahan post partum disekitar kita dengan karateristik yang berbeda-beda. Penanganan perdarahan post partum dapat dilaksanakan dengan baik apabila ditangani berdasarkan penyebabnya dan karateristiknya. Perdarahan post partum yang sulit dihentikan bisa mendorong pada keadaan shock hemoragik. Apabila hal ini terus berlanjut hal lebih fatal adalah mengarah kekematian ibu. Melihat begitu pentingnya peranan penanganan pada perdarahan yang dapat menekan tingginya AKI, maka peniliti tertarik untuk mengambil penelitian ini.




1 komentar:

sabrina tiesya said...

blog.y cantik

Post a Comment